Rabu, 06 Mei 2015

Kecamatan lilirilau

KECAMATAN LILIRILAU

Kami sadar bahwa informasi dan komunikasi sangat penting guna mengikuti perkembangan diberbagai sektor, untuk itu kami hadirkan blogger yang sederhana ini agar dapat memenuhi kebutuhan anda khususnya mengenai Kecamatan Lilirilau. semoga bermanfaat
KAMIS, 06 MEI 2015 SEJARAH SINGKAT KECAMATAN LILIRILAU SEJARAH SINGKAT KECAMATAN LILIRILAUA.
SEBELUM BERSTATUS KECAMATAN

1.Seperti kita ketahui bahwa, sebelum keluarnya Undang-Undang No. 29 Tahun 1959 Daerah Soppeng ini berstatus Swapraja yang terdiri dari 7 Wanua yang setingkat dengan Distrik yaitu :a.Wanua Lalabata Ibu Negerinya Watansoppengb.Wanua Lilirilau Ibu Negerinya Cabengec.Wanua Liliriaja Ibu Negerinya Cangadid.Wanua Marioriawa Ibu Negerinya Batu-batue.Wanua Marioriwawo Ibu Negerinya Takalallaf.Wanua Pattojo Ibu Negerinya Maccinig.Wanua Citta Ibu Negerinya Pacongkang
2.Khusus Wanua Lilirilau lazim juga disebut “LOMPENGENG” yang dikepalai oleh seorang Kepala Wanua yang bergelar “ARUNG LOMPENGENG”.
3.Wanua Lilirilau terbagi atas
4 Wanua bawahan masing-masing :a.Wanua Bawahan Lompengeng Kepalanya Bergelar Sulewatangb.Wanua Bawahan Pajalesang Kepalanya Bergelar Sulewatangc.Wanua Bawahan Macanre Kepalanya Bergelar Sulewatangd.Wanua Bawahan Baringeng Kepalanya Bergelar Arung4.Tiap-tiap Wanua bawahan terbagi atas kampong-kampung yang dikepalai oleh seorang yang bergelar “MATOA” antara lain :a.Wanua Bawahan lompengeng terdiri atas 10 Kampung yaitu·Kampung Salaonro kepalanya bergelar Kepala Salaonro·Kampung Kecce kepalanya bergelar Kepala Kecce·Kampung Paroto kepalanya bergelar Matoa Paroto·Kampung Marale kepalanya bergelar Matoa Marale·Kampung Tetewatu kepalanya bergelar Matoa Tetewatu·Kampung Abbanuange kepalanya bergelar Kepala Abbanuange·Kampung PeppaE kepalanya bergelar KepalaPeppaE·Kampung Saleng kepalanya bergelar Kepala Saleng·Kampung Ujung kepalanya bergelar Kepala Ujung·Kampung Berru kepalanya bergelar Kepala Berrub.Wanua Bawahan Pajalesang terdiri atas 5 Kampung yaitu·Kampung Allimbangeng kepalanya bergelar Kepala Allimbangeng·Kampung Talipu kepalanya bergelar Kepala Talipu·Kampung Sumpang Salo kepalanya bergelar Kepala Sumpang Salo·Kampung Pajalesang kepalanya bergelar Matoa Pajalesang·Kampung Lenrang kepalanya bergelar MatoaLenrangc.Wanua Bawahan Macanre terdiri atas 2 Kampung yaitu :·Kampung Toawo kepalanya bergelar Kepala Toawo·Kampung Macanre  kepalanya bergelar Matoa Macanred.Wanua Bawahan Baringeng terdiri dari 10 Kampung yaitu :·Kampung Tanjonge kepalanya bergelar Kepala Tanjonge·Kampung Pompulu kepalanya bergelar Kepala Pompulu·Kampung Mappalakkae kepalanya bergelar Kepala Mappalakkae·Kampung  Takku kepalanya bergelar Kepala Takku·Kampung  Buruccenge kepalanya bergelar Kepala Buruccenge·Kampung  Leppangeng kepalanya bergelar Kepala Leppangeng·Kampung  Masing kepalanya bergelar MatoaMasing·Kampung  Lagoe kepalanya bergelar Matoa Lagoe·Kampung  Bila kepalanya bergelar Matoa Bila·Kampung  Palero kepalanya bergelar Matoa PaleroB.SETELAH BERSTATUS KECAMATAN1.Kecamatan Lilirilau dibentuk bersama-sama dengan Kecamatan-kecamatan lainnya dalam Kabupaten Soppeng, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan Tenggara tanggal 16 Agustus 1961 Nomor 1100 dalam rangka reorganisasi Pemerintahan Administrasi terendah di Sulawesi Selatan Tenggara dalam Tahun 1961. Kabupaten Soppeng terdiri 7 Wanua (Distrik) dilebur menjadi 5 Kecamatan yaitu : Kecamatan Lalabata, Kecamatan Lilirilau, Kecamatan Liliriaja, Kecamatan Marioriawa dan Kecamatan Marioriwawo. Sedangkan 2 Wanua lainnya masing-masing Wanua Citta dimasukkan dalam wilayah Keacamatan Lilirilau dan Wanua Pattojo dimasukkan dalam wilayah Kecamatan Liliriaja.2.Dengan terbentuknya Kecamatan-kecamatan di Kabupaten Soppeng, Kecamatan Lilirilau mengalami perubahan-perubahan baik Daerah Hukumnya maupun Struktur Organisasi Pemerintah/Aparatnya yaitu :a.Daerah Hukumnya :·Kampung Lenrang tadinya masuk wilayah Kecamatan Lilirilau tetapi mengalami perubahan, maka masuk Wilayah Kecamatan Liliriaja.·Wanua (Distrik) Citta yang terdiri dari 11 Kampung dilebur seluruhnya, 10 Kampung dimasukkan ke Wilayah Kecamatan Lilirilau dan 1 Kampung dimasukkan kedalam Wiyaha Kecamatan Liliriaja.·Kampung Kebo dan Lompulle dari wilayah Kecamatan Liliriaja masuk ke Wilayah Kecamatan Lilirilau.·Jadi Wilayah Kecamatan Lilirilau semula berukuran 1 Kampung, tetapi akhirnya bertambah 12 Kampung sehingga daerah hukumnya bertambah luas, dari 27 kampung menjadi 38 Kampung.b.Struktur Organisasi Pemerintahan/Aparatnya.·Kepala Wanua yang bergelar Arung Lompengeng diganti dengan sebutan Kepala Kecamatan dan status Pegawai Negeri·4 Wanua bawahan dihapuskan menjadi Pegawai Negeri dan seorang diantaranya di pensiunkan, yaitu     Sulewatang Macanre.3.Pembentukan Desa Gaya BaruDalam rangka pembentukan Desa Gaya Baru di Sulawesi Selatan, maka di Kabupaten  Soppeng  termasuk di  Kecamatan  Lilirilau  telah  2  kali  mengalami reorganisasi kampung-kampung yaitu beberapa beberapa kampung digabung menjadi 1 gabungan kampong, kemudian diberi nama “Desa Gaya Baru”.-Pertama, dilakukan pada Tahun 1963 berdasarkan Surat Keputusan DPRD GR Kabupaten Soppeng No.   19/DPRD-GR/63 Tanggal 10 April 1963 yaitu dari 176 kampung menjadi 66 kampung (Desa Gaya Baru) dimana Kecamatan Lilirilau dari 38 Kampung menjadi 14 Desa Gaya Baru.-Kedua, dilakukan pada Tahun 1968, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan tanggal 20 Desember 1965 No. 450/XII/1965  jo Surat Keputusan DPRD Kabupaten Soppeng No. 43/DPRD/1967 tanggal 22 Desember 1967 yaitu dari 66 Desa Gaya Baru yang diberi nama Wanua, dimana Kecamatan Lilirilau terdapat 6 Desa Gaya Baru (Wanua).4.Sehubungan dengan Pembentukan Desa Gaya Baru, maka 4 buah kecamatan dalam Kabupaten Soppeng termasuk Kecamatan Lilirilau mengalami perubahan-perubahan yaitu :a.Bekas wilayah Wanua (Distrik) Citta yang dimasukkan dalam Kecamatan Lilirilau dikeluarkan seluruhnya dan dimasukkan dalm Wilayah Kecamatan Liliriaja.b.Sebutan Desa Gaya Baru Lama (Mattanru) yang diliputi 2 buah kampung dari KecamatanLiliriaja dimasukkan   dalam wilayah Kecamatan Lilirilau.5.Dengan terbentuknya Desa Gaya Baru yang diberi nama “Wanua” sebagai hasil Reorganisasi kampung-kampung yang kedua, dan perubahan-perubahan batas wilayah hukum Kecamatan, maka Kecamatan Lilirilau yang tadinya terdiri 14 Desa Gaya Baru, sekarang menjadi 6 Wanua yaitu :a.Wanua Pajalesang Ibu Negerinya Pajalesangb.Wanua Ujung Ibu Negerinya Ujungc.Wanua Tetewatu Ibu Negerinya Tetewatd.Wanua Abbanuange Ibu Negerinya Abbanuangee.Wanua Baringeng Ibu Negerinya Baringengf.Wanua Lompulle Ibu Negerinya Lompulle6.Tiap-tiap Wanua dikepalai oleh seorang Kepala Wanua dan meliputi beberapa lingkungan yang dikepalai oleh seorang kepala lingkungan yang bergelar “Matoa”.Dengan adanya perbedaan sebutan nama Desa dibeberapa daerah Tk.II di Sulawesi Selatan, maka pemerintah daerah Tk. I Sulawesi Selatan menetapkan nama Desa yang berlaku umum pada daerah-daerah Tk.II di Sulawesi Selatan dengan SuratKeputusannya No. 309/IX/73 tanggal 11 September 1973 pada pasal 1.Dengan berpedoman pada Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tk.I Sulawesi Selatan No. 308/IX/1973 pasal 3 ayat 1,2 dan 3 yang isinya mengatur tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi berdirinya Desa baru hasil pemekaran, maka dengan berdasar pada surat Bupati Kepala Daerah Tk.II Soppeng maka keluarlah Surat Keputusan Gubernur  Sulawesi Selatan No. 757/XI/1977 Tanggal 3 Nopember 1977 tetang persetujuanpenambahan Desa di Kabupaten Daerah Tk. IISoppeng, setelah mendapat pengesahan dari Menteri Dalam Negeri dengan suratnya tanggal 12 April 1977 tentang penambahan jumlah Desa di Kecamatan lilirilau dari 6 buahmenjadi 7 buah desa, dan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tk I Sulawesi Selatan No. 175/II/1989 tanggal 17 Februari 1989 tentang pembentukan Desa Persiapan manjadi DESA dalam wilayah Kabupaten Daerah Tk. II Soppeng, maka Kecamatan LIlirilau mendapat penambahan dari 7 buah Desa menjadi 9 Desa, yaitu :a.Kelurahan Pajalesangb.Desa Tetewatuc.Desa Abbanuanged.Kelurahan Ujunge.Kelurahan Macanref.Desa Lompulleg.Desa Keboh.Desa Baringwngi.Desa Masing

Kunjungi situs kami;

Cemmang1@blogspot.com
Cemmankcemmank@blogspot.com
Cemmang091195@blogspot.com

Senin, 04 Mei 2015

TRANSTV

Kartika Putri (@KarthykaPutri) menge-tweet pada 10:21 malam on Sel, Apr 28, 2015: Jangan Lupa nonton @latenights_ttv di @TRANSTV_CORP malam ini yaaa... (https://twitter.com/KarthykaPutri/status/593057366242758657) Dapatkan aplikasi resmi Twitter di https://twitter.com/download

Jumat, 01 Mei 2015

Kenangan di sekolah

Cemmank

Nama Sekeluarga

ARISMAN>…………>………………
Ariska suami>amboe>askia anaknya
Aris istri>gusti>fajrah>anaknya
Arisa suami>a.patahangi>…………

Bapak;Abdul Hadi
Ibu;Murni

Senin, 27 April 2015

sejarah baringeng lilirilau


SEKILAS LINTAS BARINGENG DI KERAJAAN SOPPENG Letak Dan Geografisnya Baringeng merupakan salah satu Wilayah dalam kawasan Kedatuan Soppeng, baik dari suku bangsa yang mendiaminya maupun bahasa yang dimiliki sebagai alat komunikasi dalam percakapan dan pergaulan sehari-hari penduduknya, yaitu Bahasa Bugis. Bugis adalah salah satu golongan etnis atau suku bangsa dari empat golongan etnis yang tersebar mendiami daerah Selawesi Selatan ini, yaitu Bugis Makassar Toraja an Mandar. Baringen adalah merupakan salah satu kerajaan pada kerajaan Datu Soppeng dari Kerajaan dalam Wilayah Kecamatan, sekaligus sebagai pusat segala pemerintahan kecamatan / Kerajaan. Wilayah Desa Baringeng adalah salah satu Wilayah dataran dari beberapa Wilayah Kecamatan / Desa dalam Daerah Kabupaten Soppeng yang memiliki ketinggian sekitar beberapameter dari permukaan laut. Topografi, tanah hanya sedikit datar dan merupakan tempoat pemukiman pendudu setempat serta berfungsi pula sebagai lahan pertanian dan perkebunan pada bahagian Utara berbatasan dengan Kecamatn Sabbangparu Kabupaten Wajo, dimana dilalui jalan raya menuju Ibu Kota Propinsi Sulawesi Selatan (Makassar). Sepanjang jalan tumbuh pohon-pohon kelapa, dan coklat serta pisang yang tumbuh di sekitar rumah pemukiman penduduk. Karena itulah mata pencaharian penduduk Baringeng ini adlah 95% sebagai petani lahan/kebun. Selain hasil komoditi tersebut juga tersebut, juga beberapa penduduk setempat mengenal Air Enau sebagai produksi gula merah, yang diambil dari kebun-kebun yang tumbuh atau hutan-hutan di sekitarnya. Selebihnya pekerjaan penduduk ialah berusaha dalam jual beli. Jenis tanah Baringeng ini adalah Alluvial Kelabu Regosol dengan keadaan medan 60% datar, 30% berbukit, 10% bergunung. Sedangkang cura hujan adalah sekitar 2550mm/tahun. Jadi curah hujannya setiap tahun cukup tinggi. Musim hujan setiap tahun mulai sekitar bulan November sampai dengan bulan April. Sedangkan musim kemarau mulai sekitar bulan Mei sampai dengan bulan Agustus. Kawasan Baringeng inidan sekitarnya senantiasa mendapat hujan sepanjang tahun dengan hari-hari hujannya pendek. Mata pencaharian penduduk setempat, selain yang dikemukakan di atas, masih ada lagi pencaharian penduduk yang sebenarnya merupakan monopoli kaum wanita dari masyarakat Baringeng pada khususnya dan suku Bugis pada umumnya, yaitu bertenun kain sarung baik benang maupun sutra. Keterampilan menenun sarung ini merupakan pertanda keterampilan sesorang wanita Bugis. Menenun bagi orang Bugis merupakan salah satu alat pembinaan bagi anak wanita yang diharapkan nantinya dapat memiliki sikap : 1. Penuh rasa tanggung jawab terhadap apa saja yang dilakukannya. 2. Tekun menghadapi sesuatu yang merupakan tanggung jawabnya. 3. Tabah dan sabar pada setiap sesuatu yang menimpanya. 4. Tidak cepat bosan terhadap sesuatu yang merupakan tanggung jawabnya. Kesemua sifat ini harus dimiliki oleh si penenun, klarena apabila ditinggalkan salah satu di antaranya akan berakibat buruk pada tenunannya dalam arti tidak akan menjadi kain (sarung) yang menjadi tujuannya. Pada dasarnya Baringeng ini adalah salah satu kerajaan yang diperintah oleh seorang Raja yang bergelar Petta Baringeng, namun dalam perkem-bangannya ia menggabungkan diri dengan kerajaan Soppeng dengan Gelar Datu Soppeng, yang menjadi pusat kerajaan di Soppeng. System kehidupan social budaya masyarakat Baringeng saat ini nampaknya masih diwarisi oleh nilai-nilai cultural dari masa lalu (kerajaan), namun hal tersebut tiak setajam lagi sebagaimana yang berlaku masa kini, karena pengaruh pemahaman masyarakat terhadap Agama Islam, sebagai agama yang dianutnya. Salah satu warisan dari masa lalu itu ialah masih nampak nyata adanya system pelapisan social (stratifukasi social). Pitirin A. Sorokin pernah mengatakan bahwa system berlapin-lapis itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur (dalam Soerjono,1977). Selanjutnya Sorokim menyatakan bahwa pelapisan social adalah pembedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkhis). Perwujudannya adanya kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas yang lebih rendah. Prof.DR. Mattulada mengemukakan bahwa pelapisan masyarakat Orang Bone dan Orang Wajo (Bugis) adalah sebagai berikut : Pelapisan Masyarakat Orang Bone (Bugis) Zaman Dahulu Anak Arung To Bone (Bangsawan Orang Bone) Anak Arung Matase (Anak Bangsawan Penuh) Anak Arung Mattola (Putra/Putri Mahkota) Anak Arung Matase (Putra/Putri Raja-raja) Anak Arung (Bangsawan) Anak Arung Ribolang (Bangsawan Warga Istana) Anak Arung Sipue (Bangsawan Separuh) Anak Cera’ (bangsawan Berdarah Campuran) To Maradeka (Orang Merdeka) To Deceng (Kepala Kaum/Anang) To Sama (Rakyat Kebanyakan) Ata. (Sahaya) Ata Mana (Sahaya Warisan) Ata Mabuang (Sahaya Baru) (Dengan Detail) A. Anak Mattola (Anak Pewaris yang dipersiapkan untuk dapat menjadi Raja/arung) 1. Anak Mattola Anak Pewaris) 2. Anak Sangaji (Anak Terbilang Mulia) 3. Anak Rajeng 4. Anak Cera a. Anak Cera Sawi (Anak Berdara Campuran Warga) b. Anak Cera Pua’ (anak berdarah campuran Sahaya) c. Anak Cera Ampulajeng (Anak Berdarah Campuran Sahaya Baru) d. Anak Cera Yattang Dapureng (Anak berdarah Campuran Pribadi) B. Anak Arung (Anak Bangsawan) ( A. 1, 2, 3, 4 ) C. Tau Deceng (Orang Baik-Baik) a. Tau Deceng b. Tau Deceng Karaja D. Tau Maradeka (Warga Merdeka) a. Tau Meradeka mannennungeng b. Tau Maradeka Sampengi E. Ata (Sahaya) a. Ata Mana (Sahaya Warisan) b. Ata Mabuang (Sahaya Baru) ( Mattulada, Prof. DR., La Toa , 1995)