Senin, 27 April 2015

sejarah baringeng lilirilau


SEKILAS LINTAS BARINGENG DI KERAJAAN SOPPENG Letak Dan Geografisnya Baringeng merupakan salah satu Wilayah dalam kawasan Kedatuan Soppeng, baik dari suku bangsa yang mendiaminya maupun bahasa yang dimiliki sebagai alat komunikasi dalam percakapan dan pergaulan sehari-hari penduduknya, yaitu Bahasa Bugis. Bugis adalah salah satu golongan etnis atau suku bangsa dari empat golongan etnis yang tersebar mendiami daerah Selawesi Selatan ini, yaitu Bugis Makassar Toraja an Mandar. Baringen adalah merupakan salah satu kerajaan pada kerajaan Datu Soppeng dari Kerajaan dalam Wilayah Kecamatan, sekaligus sebagai pusat segala pemerintahan kecamatan / Kerajaan. Wilayah Desa Baringeng adalah salah satu Wilayah dataran dari beberapa Wilayah Kecamatan / Desa dalam Daerah Kabupaten Soppeng yang memiliki ketinggian sekitar beberapameter dari permukaan laut. Topografi, tanah hanya sedikit datar dan merupakan tempoat pemukiman pendudu setempat serta berfungsi pula sebagai lahan pertanian dan perkebunan pada bahagian Utara berbatasan dengan Kecamatn Sabbangparu Kabupaten Wajo, dimana dilalui jalan raya menuju Ibu Kota Propinsi Sulawesi Selatan (Makassar). Sepanjang jalan tumbuh pohon-pohon kelapa, dan coklat serta pisang yang tumbuh di sekitar rumah pemukiman penduduk. Karena itulah mata pencaharian penduduk Baringeng ini adlah 95% sebagai petani lahan/kebun. Selain hasil komoditi tersebut juga tersebut, juga beberapa penduduk setempat mengenal Air Enau sebagai produksi gula merah, yang diambil dari kebun-kebun yang tumbuh atau hutan-hutan di sekitarnya. Selebihnya pekerjaan penduduk ialah berusaha dalam jual beli. Jenis tanah Baringeng ini adalah Alluvial Kelabu Regosol dengan keadaan medan 60% datar, 30% berbukit, 10% bergunung. Sedangkang cura hujan adalah sekitar 2550mm/tahun. Jadi curah hujannya setiap tahun cukup tinggi. Musim hujan setiap tahun mulai sekitar bulan November sampai dengan bulan April. Sedangkan musim kemarau mulai sekitar bulan Mei sampai dengan bulan Agustus. Kawasan Baringeng inidan sekitarnya senantiasa mendapat hujan sepanjang tahun dengan hari-hari hujannya pendek. Mata pencaharian penduduk setempat, selain yang dikemukakan di atas, masih ada lagi pencaharian penduduk yang sebenarnya merupakan monopoli kaum wanita dari masyarakat Baringeng pada khususnya dan suku Bugis pada umumnya, yaitu bertenun kain sarung baik benang maupun sutra. Keterampilan menenun sarung ini merupakan pertanda keterampilan sesorang wanita Bugis. Menenun bagi orang Bugis merupakan salah satu alat pembinaan bagi anak wanita yang diharapkan nantinya dapat memiliki sikap : 1. Penuh rasa tanggung jawab terhadap apa saja yang dilakukannya. 2. Tekun menghadapi sesuatu yang merupakan tanggung jawabnya. 3. Tabah dan sabar pada setiap sesuatu yang menimpanya. 4. Tidak cepat bosan terhadap sesuatu yang merupakan tanggung jawabnya. Kesemua sifat ini harus dimiliki oleh si penenun, klarena apabila ditinggalkan salah satu di antaranya akan berakibat buruk pada tenunannya dalam arti tidak akan menjadi kain (sarung) yang menjadi tujuannya. Pada dasarnya Baringeng ini adalah salah satu kerajaan yang diperintah oleh seorang Raja yang bergelar Petta Baringeng, namun dalam perkem-bangannya ia menggabungkan diri dengan kerajaan Soppeng dengan Gelar Datu Soppeng, yang menjadi pusat kerajaan di Soppeng. System kehidupan social budaya masyarakat Baringeng saat ini nampaknya masih diwarisi oleh nilai-nilai cultural dari masa lalu (kerajaan), namun hal tersebut tiak setajam lagi sebagaimana yang berlaku masa kini, karena pengaruh pemahaman masyarakat terhadap Agama Islam, sebagai agama yang dianutnya. Salah satu warisan dari masa lalu itu ialah masih nampak nyata adanya system pelapisan social (stratifukasi social). Pitirin A. Sorokin pernah mengatakan bahwa system berlapin-lapis itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur (dalam Soerjono,1977). Selanjutnya Sorokim menyatakan bahwa pelapisan social adalah pembedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkhis). Perwujudannya adanya kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas yang lebih rendah. Prof.DR. Mattulada mengemukakan bahwa pelapisan masyarakat Orang Bone dan Orang Wajo (Bugis) adalah sebagai berikut : Pelapisan Masyarakat Orang Bone (Bugis) Zaman Dahulu Anak Arung To Bone (Bangsawan Orang Bone) Anak Arung Matase (Anak Bangsawan Penuh) Anak Arung Mattola (Putra/Putri Mahkota) Anak Arung Matase (Putra/Putri Raja-raja) Anak Arung (Bangsawan) Anak Arung Ribolang (Bangsawan Warga Istana) Anak Arung Sipue (Bangsawan Separuh) Anak Cera’ (bangsawan Berdarah Campuran) To Maradeka (Orang Merdeka) To Deceng (Kepala Kaum/Anang) To Sama (Rakyat Kebanyakan) Ata. (Sahaya) Ata Mana (Sahaya Warisan) Ata Mabuang (Sahaya Baru) (Dengan Detail) A. Anak Mattola (Anak Pewaris yang dipersiapkan untuk dapat menjadi Raja/arung) 1. Anak Mattola Anak Pewaris) 2. Anak Sangaji (Anak Terbilang Mulia) 3. Anak Rajeng 4. Anak Cera a. Anak Cera Sawi (Anak Berdara Campuran Warga) b. Anak Cera Pua’ (anak berdarah campuran Sahaya) c. Anak Cera Ampulajeng (Anak Berdarah Campuran Sahaya Baru) d. Anak Cera Yattang Dapureng (Anak berdarah Campuran Pribadi) B. Anak Arung (Anak Bangsawan) ( A. 1, 2, 3, 4 ) C. Tau Deceng (Orang Baik-Baik) a. Tau Deceng b. Tau Deceng Karaja D. Tau Maradeka (Warga Merdeka) a. Tau Meradeka mannennungeng b. Tau Maradeka Sampengi E. Ata (Sahaya) a. Ata Mana (Sahaya Warisan) b. Ata Mabuang (Sahaya Baru) ( Mattulada, Prof. DR., La Toa , 1995)

1 komentar: